Empat Tahun Tinggal Dirumah Hantu

Empat Tahun Tinggal Dirumah Hantu

Empat Tahun Tinggal Dirumah Hantu

KCS –  Tempat tinggal kami dulu termasuk dalam kawasan yang sepi, terutama pada malam hari. Memang tidak begitu jauh dari keramaian kota Depok, merupakan salah satu propinsi di Jawa barat. Konon orang bilang Depok adalah tempat Jin buang anak, namun nggak ada sedikitpun ane mempercayai perihal Jin buang anak dalam cerita-cerita orang.

Untuk mencapai rumah kami tersebut masih harus menggunakan Jasa tukang Ojek atau naik motor sendiri, karena belum ada angkot yang melewati daerah kami. Jarak dari Jalan raya Bogor ke dalam memang masih jauh, ada beberapa kilometer. Bila agan naik motor, maka akan dengan leluasa melihat keindahan di sepanjang jalan, melewati dua buah tanjakan yang terasa curam. Di Tanjakan ke dua inilah tempat ane dan anak istri bernaung beberapa tahun lamanya. Rumah dengan kiri kanan kesunyian. Sebelah kanan hamparan sawah dari lapangan Golf yang belum digunakan oleh perusahaan, sehingga digarap oleh penduduk sekitar. Lengkap dengan jurang terjal dan empang yang bila dilihat seksama lebih menyerupai telaga, apalagi bila malam, tampak hitam pekat.

Di sisi depan dan kiri tempat kami terdapat sebuah tanah kosong. persis di kiri penuh belukar yang semula digunakan sebagai lapangan bulu tangkis yang akhirnya dibiarkan mati begitu saja menjadi rimbunan rumput ilalang. Bila malam hari agan melewati jalanan di depan rumah kami, pasti akan tergerak untuk melihat kesunyian yang mendirikan bulu roma, yang hanya terdengar desau angin dan gesekan rumput ilalang.

Tepat di rumah kami ini, jangan harap agan mendapatkan penerangan jalan dari rumah kami. Meskipun ada beberapa stop kontak dan bekas lampu penerang di depan rumah, tapi tidak pernah lagi kami nyalakan. Mungkin orang akan berpendapat betapa pelitnya kami sampai lampu jalan atau minimal lampu depan rumah saja nggak dinyalakan. Itu mungkin pendapat orang yang baru lewat. Mungkin. Tapi bagi penduduk sekitar kampung kami tentunya tidak asing lagi dengan hal gelapnya depan rumah kami. Sengaja kami tidak menyalakan lampu depan rumah karena kami sudah merasa bosan untuk menyalakannya. Kenapa Bosan? Kelak agan akan mengetahui dengan sendirinya nanti.

Rumah ini kami tinggali sejak beberapa tahun yang lalu. Ane bangga menempati rumah dengan desain yang artistik dan terletak di tanah yang cukup tinggi dibanding tanah sekitar, sehingga jika dilihat dari bawah tanjakan, akan nampak seperti Villa di atas bukit.
Rumah ini kami beli dari seorang pensiunan Kolonel Tentara yang pindah karena sesuatu hal. Hari pertama kami menempati rumah ini, seperti lazimnya orang pindahan kami melakukan selamatan dengan mengundang beberapa tetangga. Malamnya kami lewatkan dengan tidur yang pulas karena suasana sekitar rumah memang asri dengan hawa dingin menyejukkan dibawa oleh angin dari padang golf.

Beberapa hari lamanya tinggal di sini tak ada kejadian yang aneh, sampai pada suatu pagi Ane mendapati rokok filter yang baru saja ane beli, hilang secara misterius. Sebungkus rokok itu baru ane hisap satu batang, lainnya masih utuh. Itulah awal mula keanehan yang kami dapatkan. Kalau hilangnya bukan didepan mata ane sendiri, mungkin ane nggak peduli. Toh hanya sebungkus rokok, apa artinya sebungkus rokok yang hilang. Tapi yang membuat Ane penasaran adalah bahwa rokok itu hilang di depan mata ane sendiri, di mana nggak ada seorangpun yang lewat atau pernah bergabung beberapa waktu sebelumnya di sini. Ane anggap hilang begitu saja, dan melupakan kejadian itu, dua hari kemudian Ane dikejutkan dengan kemunculan kembali rokok ane yang hilang tepat di tempat semula. Rokok itu masih utuh, tepat kurang satu batang karena sudah ane hisap sebelumnya. Ane tanya pembantu ane, apakah dia yang sengaja berbuat begitu untuk mengerjai atau menakuti ane, nyatanya bukan dan pembantu ini juga merasa takjub bercampur ketakutan. Lagi-lagi ane anggap bahwa kejadian yang saya alami ini hanyalah kebetulan atau ane yang salah lihat.

Ane punya anak kecil, laki-laki yang berusia 1,5 tahun waktu kami baru menempati rumah ini. Nggak ada lain dan bukan, yang dikerjakan anak ane ini nangis tiap hari. Bagi ane mendengar tangis bayi terus-menerus adalah hal yang biasa. Tapi kalau tangis itu berkepanjangan dan tak henti-hentinya, tentulah jadi masalah juga bagi kami.

Kami sengaja memberikan pengasuh khusus pada bayi Kami ini, seorang ibu paruh baya yang cukup rajin dalam mengerjakan sesuatu. Ibu ini sangat tanggap pada apa yang harus dia kerjakan tanpa kami menyuruhnya. Dia mulai bekerja setelah pembantu yang pertama pulang tanpa sebab musabab yang jelas. Kehadiran ibu ini ditengah-tengah kami adalah hal yang istimewa, di mana kami menganggap dia sebagai ibu kami sendiri. Di saat-saat kami mulai dicekam rasa penasaran dan ketakutan dengan kejadian demi kejadian aneh, keberadaan seseorang yang lebih tua dari usia kami adalah anugerah, minimal kami merasa nyaman, terutama dari hal-hal yang aneh. Sikecil pun mulai berkurang tangisannya. Kami lalui hari-hari dengan tenang dan menyenangkan sampai pada suatu saat kami kedatangan orang tua kami.
Tanpa kami sangka-sangka, si Ibu pengasuh bayi ini secara tiba-tiba mengajukan berhenti dari pekerjaannya dengan mendadak. Nggak ada rayuan atau apapun yang dapat mencegah keinginannya untuk berhenti dari kerja di rumah ini. Kamipun tidak dapat berbuat apa-apa selain dari mengikhlaskan kepergian pembantu kami yang bijak ini, walaupun dengan kecamuk pertanyaan yang tidak terpecahkan saat itu. Baru bertahun-tahun kemudian pertanyaan itu terjawab kenapa si Ibu pembantu ini minta berhenti mendadak. Ternyata kami telah dikelabui oleh kekuatan jahat yang akan kami ceritakan lagi nanti, pada bagian akhir kisah ini.

Akhirnya kami mendapatkan lagi pembantu, yang masih belia, namanya Ratih. Berusia sekitar 18tahunan. Terlalu muda untuk ukuran pembantu yang diharapkan dapat mengerjakan segala sesuatunya. Bila pembantu yang lama kami dapat lebih tenang karena faktor usia yang cukup, tapi dengan pembantu yang baru ini kami tidak begitu mengharapkan perubahan yang berarti. Yang penting istri ane nggak terlalu repot lagi. Walaupun masih muda, lama-lama Ratih dapat menyesuaikan juga dengan keadaan di rumah kami. Tapi itu tidak berlangsung lama. Baru sepuluh hari kerja, Ratih sudah meminta berhenti. “Saya mau berhenti saja Pak, orang tua Saya menyuruh Saya pulang” Demikian kalimat yang diucapkan Ratih saat meminta ijin berhenti dari kami, dengan sorot mata yang ketakutan. “Bukankah mbak Ratih sudah berjanji akan berkerja di tempat kami minimal 2bulan biar kami dapat mencari penggantinya dulu..?” kata Ane mengingatkan akan janji Ratih pada saat kami terima kerja dulu. Ratihpun tidak bisa mengelak, dia surut juga. Memang kami dulu membuat kesepakatan dengan Ratih bahwa minimal kerja di rumah kami selama dua bulan, dan jika mau berhenti harus memberi tahu paling tidak satu bulan sebelumnya agar kami dapat mencari penggantinya sesegera mungkin. Hal itu kami lakukan karena belajar dari pengalaman pertama dengan pembantu kami yang dulu. Perihal alasan Ratih untuk pulang kampung pun ane fikir hanya akal-akalan saja.

Kami lega dan menganggap sudah selesai wacana Ratih untuk pulang kampung. Tapi hari-hari berkutnya setelah Ratih meminta berhenti itu jadi terasa kaku, dia lebih banyak diam. Istriku sering ke kamar Ratih untuk sekedar menghibur Ratih agar kerasan. Kamarnyapun kami pasangi Tivi sendiri agar betah. Kamar Ratih adalah kamar yang dulu ditempati pembantu kami yang pertama. Letaknya agak jauh dari kamar kami, kamar utama yang ukurannya lebih besar, terletak paling belakang di bagian rumah. Dari kamar kami ini dapat melihat langsung ke pemandangan belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon pisang dan petai cina melalui jendela kamar. Dari slot jendela yang sudah berkarat, pertanda bahwa jendela ini sangat jarang dibuka. Baru setelah kami tempati, jendela ini difungsikan lagi.

Hari itu hari minggu, hari libur untuk ane setelah seminggu bekerja. Ane bolak-balik dari rumah ke tempat kerja di Bogor. Kebetulan supersibuk sehingga hari liburpun kadang-kadang tidak lagi menjadi hari libur. Saya tetap harus mengerjakan tugas-tugas di luar rumah. Karena hari minggu ini nggak ada tugas yang mengharuskan ane keluar rumah, Saya bersama istri dan anak ane yang saat ini sudah berusia 2 tahun menyempatkan jalan-jalan ke Mall sambil menikmati kebersamaan. Memang kami jarang mendapatkan suasana begini. Petangnya, kami kembali ke rumah. Sampai di rumah pas magrib. Keadaan rumah sepi, lampu-lampu dalam rumah sudah menyala terang.

“Ratih..” “Ratih..!” Teriak istri ane memanggil Ratih, kalau-kalau ketiduran. nggak ada sahutan dari dalam rumah. ane pun gedor-gedor rumah, tetap nggak ada reaksi,padahal biasanya nggak begini. Biasanya Ratih akan langsung membukakan pintu saat kami baru nyampai di rumah. Lama pintu tidak dibukakan, juga nggak ada tanda-tanda kalau Ratih masih melek. Mungkin Ratih memang tertidur di kamarnya. Tapi kamarnya kan dekat dari ruang tamu, bahkan terletak persis garis lurus dari pintu utama, jadi mustahil jika dengan panggilan segitu kerasnya Ratih tetap tidak bangun-bangun juga. Ane ngecek pintu, ternyata nggak dikunci, hanya ditutup dengan pengait slot yang sebenarnya bisa dibuka dari luar, dengan cara menariknya dari lubang jendela samping pintu. Ane menjulurkan lengan dan berusaha meraih slot yang menahan pintu untuk agar dapat dibuka. Alhamdulillah. Pintu dapat terbuka dengan sendirinya. Kamipun masuk dengan menahan gondok dan kesal.
Kami memasuki rumah. Kamar Ratih kelihatan gelap, lampunya nggak dinyalakan. Ane melihat sosok tubuh Ratih yang diam kaku, sama sekali nggak terusik dengan kehadiran kami. “Sakitkah dia?” fikir ane. Tetap dengan keadaannya yang diam kaku, pintu yang sedikit menganga kami buka lebar. Istriku bertanya “Kenapa kamu diam saja? Dari tadi kami panggil-panggil, kamu kenapa diam saja?” Tidak ada respon, Ratih tetap diam dengan sebagian rambut panjangnya menutupi muka. Muka Ratih nyaris tidak kelihatan, hanya dagunya saja yang kelihatan sangat pucat. Dia bangkit dan terduduk dengan memeluk sebelah kakinya di atas Ranjang. Anak bayiku menangis tiba-tiba. Mungkin karena kesal merasa dicueki, istriku berteriak. “Kamu kenapa diam saja? Apa yang kamu lakukan?!”

Ratih diam saja, namun tiba-tiba dia menangis dengan suara lantang, lebih menyerupai jeritan. Huah……….ckhdggrkhhh….!! Saya nggak mau tahu urusanmu…! Saya mau bebas..!” Suara itu terdengar sangat keras melengking, memecah kesunyian petang.
“Saya tidak peduli…..!” “Hi hi hi hi hi hi hi…. Hi hi hi hi….” Suara lantang itu berubah menjadi suara tawa. Ya, suara tertawa yang sangat mengerikan. Bulu kuduk ane langsung berdiri, merinding! Istri ane diam saja, mungkin schok dengan jawaban yang baru saja ia terima. Tapi ane mengkap hal yang aneh. Dari pertama kedatangan kami, dan apalagi dengan suara tangis yang tiba-tiba berubah menjadi suara tertawa melengking yang menakutkan. Ane tarik tubuh istri untuk menjauhi tubuh Ratih. Suara tertawa masih melengking-lengking, berpadu dengan tangis anak ane yang makin keras. “Ma, tunggu di sini sebentar. Saya keluar” Kata ane, lengsung berlari menuruni tanjakan.

Ane langsung menuju ke tempat pemancingan, di sana ada satu ruangan yang memang digunakan sebagai tempat istirahat pegawai pemancingan sekaligus tempat biasa ane nongkrong. Ada 6 orang bergerombol membentuk lingkaran, mereka sedang main domino. Kaget melihat kedatangan ane yang mendadak. “Ada apa ya Pak?” Tanya Pak Narto yang lagi main domino. Pak Narto ini sehari-hari sebagai pegawai pemancingan yang cukup akrab dengan ane, karena sebelum kami menempati rumah ini pun ane sudah mengenalnya. Setelah ane jelaskan hal kejadian yang baru saja kami alami, semua orang yang ada di pemancingan langsung berlari menghambur ke rumah ane, Istri ane masih ketakutan tapi berusaha menenangkan diri, memeluk sikecil. Orang-orang tercekat melihat pemandangan dihadapannya. Ratih dengan rambut yang masih riap-riapan menutupi mukanya, berputar-putar di atas ranjang, tidak menempel kasur! Ya, Ratih melayang-layang dengan suara tangis dan tawa yang bergantian, memekakkan telinga. Salah satu orang dari kelima rombongan langsung inisiatif memanggil orang pintar, agak jauh dari rumah.

Sementara kami tercengang dengan kejadian terbangnya Ratih, tanpa fakir panjang ane dengan Pak Narto dan Mul memegang tubuh Ratih dan menempelkannya ke ranjang. Ane membaca doa-doa dengan suara keras, dan Ratih kelihatan agak melunak. Dua orang memegangi kaki Ratih. “Saya tidak mau anak ini tinggal di sinii!!” teriakan panjang kembali terucap dari bibir Ratih. Saya yakin itu bukan suara Ratih yang biasanya. “Siapa kamu?” Saya berteriak tak kalah kencang. “Saya Kuntilanak..!!!” teriak bibir Ratih yang sudah berubah putih pucat, Ane tercengang, bergidik. Kaki dan tangan terasa dingin banged. Ane lepasin pegangan pada tubuh Ratih, sambil membaca ayat Al fatihah! Dengan nanar Ratih memandang kearah Saya dan berucap. “Ha ha ha aha ha… baca aja terus..!” Ane terdiam. Istri ane sudah mulai tenang, mungkin sudah menyadari apa yang sudah terjadi dihadapannya. Dia membaca ayat kursi, orang-orang ikut membaca ayat kursi, tapi Ratih semakin lantang tertawa. “Jangan baca ayat kursi, baca surat Yasin!” Istrikupun langsung membaca Surat Yasin, namun belum selesai istri ane membaca surat Yasin, si Ratih sudah berubah kembali menjadi Kuntilanak dan berteriak “jangan begitu bacanya.. kamu Salah!! Ambil Alqur an, bacakan Yasin secara benar..!”
Bersamaan dengan itu Paranormal atau orang pintar yang dipanggil Mul datang. Paranormal langsung melakukan Sholat di ruang tamu, dan istri ane mengambil alqur an. Membacanya dengan terburu-buru karena mulut Ratih tetap meracau tidak karuan….

{admin} Capaek??? katanya kalo disambung gaga seru!!!!

Paranormal melakukan sholat berulang-ulang hingga akhirnya Ratih bisa kembali sadar. Malam itu kami nggak berani tidur, sepanjang malam ane jagain pintu kamar karena istri ane ketakutan.

Paginya mbah Gimar/nama paranormal itu datang dan menjelaskan pada kami bahwa si Ratih harus dipulangkan hari itu juga karena ternyata Ratih termasuk gadis Bau lawean, konon gadis bau lawean akan selalu dirasuki setan atau arwah penasaran, terutama jika tinggal di tempat angker.

Sebenarnya ane dan istri sudah nggak kuat berlama-lama tinggal di rumah ini, apalagi kondisi si kecil yang selalu nangis terus tanpa sebab yang jelas. Tapi apa mau dikata, ane bukan orang kaya yang bisa pindah-pindah rumah kapanpun dia mau. kami tetap bertahan. kejadian demi kejadian kecil terus kami alami, termasuk sumur pompa yang selalu mati. sudah berpuluh kali didatangkan ahli sumur tetap saja begitu. dan bisa mengalir normal setelah kami sediakan sajen bubur merah bubur putih atas saran sesorang yang kami anggap “mengerti”

Hari berganti hari, kami seolah melupakan kengerian yang sering kami alami. karena saking terbiasanya kami menjadi kebal akan gangguan “mereka” dan sadar bahwa memang ada hantu di rumah kami. kami nggak heran bila agan main ke rumah kami, meskipun siang hari, tiba-tiba lari terbirit-birit karena melihat “sesuatu”. kebanyakan sih bentuk kuntilanak dan pocongkkkkkkkkk yang selalu berdiri di atas tangga untuk ke lantai atas.

Pernah suatu ketika ane menonton siaran TV di malam hari, padahal kondisi sedang mengantuk tapi ane nggak mau tidur karena takut mimpi buruk. Memang posisi TV di ruang tengah, sedangkan anak istri tidur di kamar. jadi ane seorang diri menonton tivi. mungkin saking lelahnya ane tertidur dan nggak ingat apa-apa, tahu-tahu terbangun dan di hadapan ane sudah berdiri pucat, sosok pocongkkkkkkkkk yang tergantung di bawah tangga, persis di depan ane nonton TV.

Pada bulan ke sebelas kami menempati rumah ini, tepatnya seminggu pada bulan ramadhan, ane browsing di depan monitor sambil menunggu waktu sahur tiba. seperti ada kekuatan yang menarik leher ane untuk membalikkan tubuh menengok ke belakang. Ane terperanjat, hampir tidak percaya dengan yang ane lihat. keramik di depan kamar ane bergerak-gerak membentuk gelombang. Seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari bawah lantai keramik. dengan memberanikan diri, ane datangi keramik yang masih bergerak-gerak itu lalu ane tepuk dengan telapak tangan dan terhenti.

Siangnya ane cerita ke tetangga dan atas saran tetangga didatangkanlah seorang juru kematian yang biasa dipanggil pak modin/lebai. Pak modin sholat di dekat lantai keramik yang semalam bergerak-gerak sendiri. Dengan khusuk pak Modin duduk bersila seolah menerawang sesuatu. Terkuaklah suatu rahasia yang mungkin selama ini ditutup rapat oleh penjual tanah tempat rumah ini berdiri, bahwa dibawah rumah ini adalah kuburan. ada tiga mayat yang dikubur di sini, tepatnya di depan kamar utama(kamar ane dan istri). Akhirnya hari itu juga keramik digali dan ternyata memang masih ada jenasah2 hancur yang sudah menjadi tanah dan kami pindahkan ke pemakaman umum kampung, persis selayaknya menguburkan jenasah. diakhir kisah ini nanti, terkuak lagi kebenaran cerita bahwa ternyata nggak hanya 3 jenasah yang dikubur di tanah sebelum dibangunnya rumah ini, melainkan ada 13 (tigabelas) jenasah.

Mungkin agan dan aganwati bertanya-tanya, kenapa dulunya sudah tahu ada kuburannya kok dibikin rumah. yup. Ternyata orang yang membangun rumah ini, yaitu pemilik pertama, nggak dikasih tahu penjual tanah bahwa tanah tersebut bekas kuburan. akibatnya kuburan-kuburan itu jadi terpendam tepat di bawah pondasi rumah, dalam kamar dan di depan kamar.

Jika agan mendengar cerita ada tukang ojek yang membawa penumpang lalu penumpang itu turun di depan rumah kami, jangan heran karena karena seringkali itu adalah arwah penasaran yang berulangkali mengerjai para pengojek. Bahkan ada yang sampai pingsan di pinggir jalan. Sebenarnya jauh sebelum banyak kejadian aneh, banyak tukang ojek yang memberitahu bahwa rumah yang ane tempati berhantu, tapi waktu itu ane nggak percaya.

Hanya di rumah ini pula ane bisa ditemui menjadi dua orang gan, padahal ane nggak punya saudara kembar. nanti ya, ane ceritakan lagi disambungan kisah ini. ane udah ngantuk dan persiapan tidur dulu karena sudah lumayan ngantuk.

Proses pemindahan jasad-jasad yang sudah menjadi tanah itu dilakukan oleh beberapa orang, hadir pula pak RT yang akhirnya mengiyakan dan tak bisa lagi menutupi misteri sebenarnya akan rumah berhantu ini. Selesai pemindahan kuburan malamnya kami melakukan tahlil dengan mengundang hampir seluruh warga di lingkungan RT. Tahlil dilakukan selama tiga malam. lega sudah hati ane, seolah lepas dari batubesar yang menghimpit dada. Ane berharap bahwa teror-teror hantu yang melingkari kami selama ini akan berhenti setelah kami perlakukan mereka seperti saudara kami sendiri dengan prosesi selayaknya pemindahan kuburan. Selama beberapa waktu lamanya tak lagi terjadi hal-hal di luar nalar. Mertua ane sengaja datang dari Jawa timur untuk menemani kami. Ane berfikir bahwa keadaan sudah kondusif dan terlepas dari pengaruh setan, Tapi hari kelima Mertua bersama kami, tiba-tiba ibu paruh baya pengasuh bayi kami memohon untuk berhenti dari kerja. Serasa sesak dada ane saat siIbu paruh baya mengutarakan niatnya. Ane diam saja, dan melihat wajah si Ibu, nampak pucat dengan mata sembab seperti habis menangis. “Ibu habis menangis?” tanya ane penasaran. “Enggak pak, Saya memang sudah nggak betah” Siibu sesenggukan. “Saya nggak enak sama mertua Bapak” kata ibu paruhbaya.

Akhirnya kami pun merelakan si Ibu paruhbaya itu berhenti kerja. Otomatis si kecil lebih sering bersama dengan Ibu mertuaku, karena istri ane siangnya harus kuliah di Depok. Memang istri ane masih usia 21 tahun ketika itu. Ane nggak terlalu mempersoalkan dengan berhentinya ibu paruh baya, namun yang menjadi masalah adalah ibu mertua ane nggak bisa lama-lama menemani kami, hanya satu bulan saja beliau pulang. Mau nggak mau ane kelimpungan. Ane datangi lagi ibu paruhbaya untuk bekerja di rumah kami kembali, tapi menolak secara halus. Ane desak tetap nggak mau, si Ibu malah cerita bahwa sebenarnya ia berhenti karena pernah dipelototi oleh Ibu Mertua ane, dan diusir mentah-mentah. kejadiannya di dalam kamar. Ane telepon mertua ane, beliau bersumpah atas nama Tuhan bahwa tak pernah satu kalipun ke kamar ibu itu, apalagi sambil memelotot. Ane merasa nggak enak, mulai terasa ada keganjilan. Merinding. Tapi ane pendam begitu saja karena takut istri ane panik.

Beberapa hari kemudian kami mendapatkan pembantu baru, namun dia nggak bisa nginap di rumah kami. Pembantu baru kami ini bernama Romlah, asli sunda. dia memiliki seorang anak usia 5tahun tapi sanggup bersih-bersih rumah seadanya dan tugas utama mengasuh anak kami. Daripada kosong tanpa pembantu, kami terima saja. Pada hari kedua dia bekerja, si anak ikut dibawa karena neneknya lagi ada keperluan. Jam 8 pagi Romlah datang bersama anaknya yang masih kecil itu, Romlah langsung bersih-bersih rumah sedangkan sianak bermain sendiri di bawah tangga. Belum ada setengah jam Romlah bekerja, anaknya menjerit dan memaksa untuk pulang, “Pak, Saya pulang dulu, nanti saya datang lagi” Pamit Romlah. Ane hanya mengiyakan, nggak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal. Lama Romlah pergi mengantar anak, ditunggu-tunggu nggak datang juga. ketika ane bersama istri menjemput ke rumahnya, Romlah meminta untuk berhentii bekerja, lebih tepatnya membatalkan kerja pada kami. Agan-agan dan aganwati, apa yang telah terjadi? Setelah ane desak, Romlah mengaku bahwa anaknya tadi cerita, melihat pocongkkk yang loncat-loncat di atas tangga rumah ane. Kondisi anak Romlah bahkan masih panas.

Hari-hari selanjutnya kami lalui hanya bertiga, yaitu Ane, istri dan anak kesayangan kami, Pijar. kami menjalani hari-hari seperti biasa, berusaha melupakan segala yang terjadi biarpun pada kenyataannya tetap saja tegang. Hampir tiap malam bulu kuduk kami meremang, ditambah hawa lembab yang dibawa oleh angin padang Golf semakin membuat kami larut dalam ketakutan. tapi sekali lagi, ane harus dapat menguatkan diri, apalagi di depan istri ane. karena kalau ane udah nunjukin rasa takut ane, istri ane tentu lebih takut lagi dan merasa nggak ada yang melindungi.

Apabila petang menjelang, pasti akan terdengar suara orang mengaji dari MP3 yang sengaja ane setel agak kencang. Lumayan, sedikit menurunkan tensi ketegangan kami. Dari teman-teman di kantor tempat ane bekerja, sebuah institusi negeri, didatangkan 3orang paranormal. Tapi tetap tidak ada perubahan yang berarti. Suatu hari, anak kami mengalami panas demam. obat dari dokter sudah diminumkan tapi suhu badan tetap naik turun nggak stabil. Ane pusing Gan. Hari itu kami bergantian mengompres sikecil dengan air hangat, menjaga agar tidak sampai terjadi step. Kami bikin semacam jadual piket. Satu jam ane yang ngompres, satu jam lagi gantian istri ane. Begitu seterusnya. Sampailah pada saat ane dibangunkan paksa oleh istri, padahal masih jam ane tidur.
“Pa, suhu badan pijar tinggi lagi.. aku takut..” kata istri ane.
“Ya sudah, kita melek berdua saja” tukas ane sambil melihat sekeliling.
Kamar utama kami letaknya paling belakang, bersebelahan dengan sumur yang sudah lama nggak dipakai. Tepat di samping kamar, terdapat Jendela Nako yang mengarah ke lapangan golf. dari jendela ini kami dapat melihat pemandangan di belakang rumah. Ane memandang sekeliling, perasaan ane nggak enak banged.
“Bentar ya ma..” kata ane lalu keluar kamar dan menuju jendela, mengecek keadaan sekeliling. Ane terperanjat. Ada sesuatu, tampak jelas bayangan di depan ane, tepat disamping jendela. Ane serasa mimpi. Seseorang tampak duduk membelakangi ane, dengan rambut panjang sepunggung dan pakaian yang juga panjang.
Hawa dingin yang menusuk membuat ane bergidik tapi ane coba menenangkan diri.
“Maaf, ibu Siapa?” keluar juga suara dari mulut ane.
“Ibu siapa?” nggak ada jawaban. Sosok itu menggerakkan kepala tapi tetap membelakangi ane, terdengar lirih “Saya suka dengan anakmu”.
“Tolong ibu pergi dari sini, jangan ganggu anak Saya.” Namun Si Ibu misterius itu tetap diam tak bereaksi. Menyadari kalau anak ane dalam bahaya, ane mengambil ember berisi air yang kebetulan ada di dekat ane. dengan menahan keringat dingin dan juga takut, ane siramkan air dalam ember ke sosok itu, sambil terus berdoa sebisa ane. Secara tiba-tiba si Ibu berambut panjang itu menghilang. Dengan lunglai ane kembali masuk kamar. Alhamdulillah suhu badan anak ane sudah normal. Namun sampai pagi kami nggak berani tidur. Ane bersyukur suhu badan sikecil tetap stabil dan langsung sehat.

Ketakutan yang menyenangkan dalam hidup adalah manakala kita sudah bisa menikmati rasa takut itu. Menikmati karena keterpaksaan maupun sengaja pasrah pada bahaya sebab memang tidak ada pilihan lain. Meski rasa takut itu sering menyerang sedikit keberanian dalam diri ane, tapi kembali lagi kepasrahan akan situasi yang sangat sulitlah yang membuat bahaya tak lagi terfikirkan. Rumah ini bagaikan penjara yang nyata bagi kami. Adanya 3 kuburan di depan kamar utama kami saja sudah cukup mengintimidasi nyali istri ane. Tapi toh tetap ane kuatkan dengan segala cerita indah dan kekuasaan Tuhan yang nggak akan mungkin bisa dikalahkan oleh setan. Meski sebenarnya menolak, banyak keganjilan yang sengaja ane sembunyikan dari istri. Semata demi mempertahankan keberanian diri kami. Meski ane juga harus membohongi diri sendiri.

Ruangan paling aman dalam rumah kami adalah kamar utama. Rasanya begitu jengah bila kami duduk di ruang tamu ataupun ruang tengah, kecuali ketika ada orang lain atau Tamu yang kebetulan singgah ke rumah kami. Saat ini, dua kamar dengan ukuran besar-besar praktis kosong. Kamar depan sedianya kami khususkan buat kamar Tamu, dan kamar tengah untuk pembantu, Tapi sejak kami tak memiliki pembantu lagi, kamar itu kami biarkan kosong. Sedangkan kamar tamu lebih mirip sebagai gudang dengan berbagai macam barang yang ditaruh di sana. Keduanya sama-sama gelap. Ane malas mencari pembantu lagi, karena malas melihat intrik yang akan terjadi dengan mereka. Praktis dua kamar kosong ini semakin nggak terjamah oleh kami. Dua kamar ini sebenarnya bersebelahan, tapi terpisah oleh Kamar mandi. Sebuah Kamar mandi yang aneh menurut ane. Karena dalam kurun waktu yang nggak begitu lama, satu tahun semenjak ane rehab keseluruhan rumah, ubinnya sudah ngelotok tanpa sebab apa-apa. dan lebih aneh lagi, ubin yang terbuat dari keramik pucat itu menyembul terangkat. Lambat laun keramik ini terkelupas dengan sendirinya.

Keadaan sudah sangat senyap ketika ane mulai berkemas. Pekerjaan memaksa ane untuk berangkat malam-malam. Ane tengok istri dan anak ane, sudah tertidur hampir dua jam yang lalu. Ane tak tega membangunkan mereka. Ane kaget ketika terdengar suara byuuurr… byurr…. suara air yang jatuh seperti seseorang sedang mandi, berasal dari arah kamar mandi tamu. Ane ke kamar mandi depan, tapi nggak ada siapa-siapa. “Sudah jelas..” batin ane bergumam sendiri. Sebenarnya ane gondok banged dengan kondisi kamar mandi tamu yang selalu gelap, dan ane Bosan mengganti bohlamnya. tiap minggu maunya diganti terus lampu itu, atau memang nggak mau terang? kutuk ane dalam hati.

Lagi-lagi ane harus melewati kondisi gelap di teras rumah. seperti halnya kamarmandi, lampu di teras ini juga tak pernah berumur lama. dia hanya mampu bertahan seminggu atau paling lama dua minggu sampai ane Bosan menggantinya terus. Hawa dingin berdesir mengusap leher ane ketika keluarkan motor melewati pagar rumah, Sunyi sekali. Lampu teras rumah sudah lama mati membuat gelap yang ada semakin pekat. diiringi desau angin, ane berangkat

Ane pacu motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi. tapi seolah motor ane terasa berat. setengah perjalanan menuju Kedunghalang Bogor, melewati Lampu merah Pemda Cibinong. Jalanan sepi, hanya tampak aspal yang mengkilap bermandi gerimis. hanya satu dua angkot yang nampak kelelahan menembus malam. Ketika tiba-tiba di depan ane ada seekor kucing besar menyebrang jalan, ane tak lagi bisa menghindarinya, tak bisa lagi mengendalikan motor ane untuk tidak menggilasnya. “Beerrdddh” terasa sekali tubuh kucing yang besar itu tergilas ban motor ane. Ane langsung injak rem dan CCiiiitt. Ane turun dari motor. beberapa tukang ojek yang mangkal di seberang menghampiri ane, ane terus mencari kucing itu, kucing yang ane tabrak barusan. aneh. Kucing itu tidak ada! “Pak, tadi lihat kan kucing besar menyebrang jalan?” tanya ane pada salah satu Ojek di dekat ane. “Ya pak, ada tadi.” Jawab tukang Ojek. “Terasa banged tadi kena ban motor ane, tapi kok nggak ada bangkainya ya?” tukas ane. Gimana ya Pak? Tanya ane lagi, tapi tukang-tukang ojek itu juga nggak bisa njelasinnya.

Ane melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya membuang Uang kertas limaribuan ke tengah jalan, dengan maksud sebagai tolak balak atas kejadian tadi. Baru beberapa saat motor ane bergerak, di depan sebuah mobil carry yang berhenti dengan beberapa penumpang menyetop ane sambil bertanya “Pak tadi nabrak Kucing juga?” Ane berhenti. “Kok Bapak tahu?” tanya ane.
“Iya pak, karena kami juga menabrak kucing besar” Jawab orang itu sambil memperhatikan ane
“Tadi sudah Saya cari Pak, tapi nggak ada”
“Nggak ada?”
“Ya, sama sekali nggak ada”
“Aneh ya Pak..”

Alhamdulillah sampai di Bogor tidak terjadi apa-apa. tugas dapat ane kerjakan dengan sedikit perasaan yang nggak enak. Gan, ane merasa seperti diikuti seseorang, atau mungkin sesuatu. baru setelah ane ingat-ingat lagi, dalam perjalanan setelah dari Lampu merah Pemda, dua kali atau mungkin tiga kali disalip oleh mobil yang sama. ketika melewati tikungan menuju ke tempat kerja ane, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul, sehingga hampir terkena motor ane. dan anehnya, wajah laki-laki itu seperti pernah ane kenal.. tapi entah di mana. sekarang ane ingat, ya! laki-laki itu mirip dengan orang yang serombongan mobil berhenti dan menanyakan perihal Kucing. Bahkan bukan mirip, ane yakin kalo itu orang yang sama. Udahlah, mungkin hanya kebetulan saja. Demikian batin ane menenangkan diri.

Paginya, sebelum subuh ane tinggalkan Kedunghalang untuk pulang ke Cimanggis. Rasanya semalam itu perjalanan yang lama dan melelahkan. Hati-hati ane pacu sepeda motor dengan kecepatan sedang, bahkan cenderung lambat. terasa berat seolah seribu beban menghimpit di benak ane. Melewati Pom Bensin Kandangroda, ane mampir sebentar bermaksud mengisi bensin. semalam ane sampai lupa untuk isi bensin gara-gara kucing sialan itu.

“Berapa liter Pak?” Tanya petugas bensin sambil menyorongkan alatnya.
“Penuhin aja deh” Jawab ane.
Lalu si petugas Bensin mengucurkan alatnya, mengisi tangki motor ane sampai penuh.
Selesai membayar bensin, motor ane starter dan “Gruennggg… Gruengggghhh” Motor ane gas tapi roda motor ane tetap diam. Terhenti. Ane Gas lagi lebih kencang, tidak reaksi apa-apa. Motor ane tetap diam seolah ada yang mencengkram.
Berkali-kali ane geber itu motor, tetap diam. Roda motor seakan terpaku pada lantai Pom Bensin. Beberapa petugas Pom bensin mencoba mendorong motor ane, hasilnya sama saja.

Satpam yang sedang bertugas mendekat dan ikut mencoba motor ane. Tapi tetap tidak bisa. Ane bingung, mereka lebih bingung lagi. Akhirnya sepeda motor ane titipkan pada Satpam Pom Bensin. Ane minta nomor telepon Petugasnya, lalu ane pulang dengan menumpang Metromini arah Kampung Rambutan.

Sesampainya di rumah, Istri ane cerita bahwa sepanjang malam, di dalam kamar istri dan anak ane nggak berani keluar kamar. Mereka terbangun ketika lewat tengah malam, anak ane menangis terus seolah-olah melihat sesuatu, sementara dari luar kamar tidur terdengar suara HP mainan anak ane yang berbunyi terus, tang teng tong tang teng tong… nggak ada habis-habisnya. Dan suara HP mainan itu berhenti setelah menjelang pagi.

Beberapa hari kemudian ane ceritakan kejadian itu pada seorang Ustad yang kebetulan mengerti dan bisa berkomunikasi dengan Gaib, dari ketika ane menabrak kucing besar sampai motor ane yang ngadat secara tiba-tiba tanpa sebab. “Itu bukan kucing yang kamu tabrak!” Kata Pak Ustad
“Hah?” Suara ane
“Semua saling berkaitan, Mereka tinggal di Rumahmu Juga.”

Ane nggak ngerti dengan semua yang Ane alami ini. Apa kesalahan ane dan keluarga Ane sampai-sampai harus terjebak dalam kemelut yang tak ada ujung dan pangkalnya, terjebak di rumah hantu. Kata-kata dari pak Ustad beberapa waktu yang lalu membuat ane bergidik. sebegitu parahkah rumah ini, sampai-sampai penghuni gaibnya ikut campur dalam urusan ane di luar rumah. pantas saja orang-orang sebelum ane nggak bertahan lama tinggal di sini, paling lama dari mereka hanya satu setengah tahun. Ane harus menyalahkan siapa? penjual rumah yang telah ane beli? menurut Ane dia tidak bersalah karena dia juga merupakan korban dari ketidaktahuan. Kondisinya ketika meninggalkan Rumah ini juga sudah cukup menggambarkan betapa menderitanya selama hidup dan tinggal di Rumah ini, meski ditutup-tutupi. Dan Ane memang minat dengan rumah ini. Jujur saja, ane sangat suka dengan model Rumah ini. Suka dengan bentuknya, suka dengan keasrian dan lingkungan pemandangan alamnya.

Memang pertama kali ane datang bersama perantara yang menawarkan rumah ini, Saat melihat keadaan rumah waktu itu ketika malam, ane sempat merinding. Entah oleh sebab apa. Tapi Ane buang jauh-jauh perasaan itu.
Akhirnya Rumah ini ane beli dengan harga yang sangat murah bila dibanding dengan apa yang ane dapatkan. Harusnya ini jadi lampu merah atau tanda tanya buat ane untuk nggak melanjutkan pembelian, setidaknya curiga. Karena rasanya nggak wajar. Selain mendapatkan Rumah ini, ane juga mendapatkan seluruh isinya. Si pemilik pergi hanya dengan membawa pakaiannya saja. Seandainya ane tidak membawa barang apapun dari tempat tinggal ane yang lama, peninggalan dari si penjual rumah ini saja sudah sangat cukup untuk memenuhi sekedar keperluan rumah tangga kecil. Televisi, Kulkas, 3 set tempat tidur lengkap dengan bantal-bantalnya, 2 Lemari, 3 set meja kayu jati antik, dan lain-lain. Ane tidak sempat berfikir bahwa barang-barang ini juga telah menjadi media bagi para setan dalam melaksanakan pestanya di kegelapan sepanjang malam, di kelak kemudian hari.

Ada yang ane Suka dari barang-barang itu, terutama satu set meja di ruang tamu. Memiliki bentuk yang dapat menarik orang yang melihatnya. dia seakan mengandung magnet magnet untuk seseorang memilikinya. Bentuknya antik, mirip dengan kursi-kursi tua pada bangsawan-bangsawan kuno. dengan ornamen ukiran pada lengan dan badan kursi itu. Di kursi inilah kemudian sering terlihat seorang nenek kebaya merah dan sanggul besar di kepalanya, sedang duduk termangu seolah ada seseorang yang ia tunggu.

Semilir angin dari arah lapangan Golf Emeralda menyejukkan membawa nyanyian alam. Derunya Terasa dingin lembab menyentuh kulit tubuh Ane. Sangat melenakan, membuat lamunan terasa nikmat di siang itu. Fragmen-fragmen dari perjalanan ane ke sini, silih berganti berebut tempat di kepala ane. membuat sulit untuk ane pejamkan mata dan tertidur biarpun hanya sekejap. Galau ane semakin bertumpuk dengan bertubinya masalah demi masalah yang ane hadapi. Entah ada hubungnnya dengan rumah ini atau hanya kebetulan saja, yang jelas ane merasakan kemunduran semenjak ane tinggal di rumah ini. Ane nggak bisa menyalahkan orang yang menjual rumah pada ane, karena dia memang bertindak demi keselamatannya sendiri, dan tentunya wajar bila dia menutupi semuanya. Kembali fikiran ane melayang ke mana-mana, sebelum akhirnya ane mencium bau wangi yang menyergap kesadaran ane. Rasa kantuk yang muncul secara tiba-tiba, telah membuat lunglai persendian ane.

Ane paksakan menuju kamar, lalu Ane baringkan tubuh di kasur, istirahat. Seketika kelambu tempat tidur ane berubah menjadi putih dan bergerak-gerak lalu menutup dengan sendirinya. nampak sebuah wajah cantik putih dengan rambut panjang putih berkilauan Lengannya terbuka di antara kain berwarna perak ditubuhnya. Dia mendekatkan telapak tangannya dan meraih bahu ane. terlihat ikat kepala di atas keningnya, lebih mirip mahkota berwarna perak. kuku-kukunya panjang dan juga berwarna putih perak menyentuh kulit ane. Ane seakan terlena dan terbuai, atau memang ane sudah dalam pengaruh rasa kantuk yang berlebihan. Perempuan di depan ane mendekap lalu menindih tubuh ane, tapi kemudian kesadaran ane kembali pulih. Entah dari mana tiba-tiba muncul kekuatan yang mengarahkan ane untuk mendorong tubuh perempuan itu menjauh dari ane, wajah perempuan itu berubah marah dan lalu seolah wajah itu tersayat dari dalam dagingnya dan nampak kulit wajahnya retak-retak oleh semacam luka. Dari luka-lukanya mengeluarkan darah yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Ane pejamkan mata dan berharap untuk segera sadar bila ini hanya mimpi. Tapi tetap nggak bisa, pemandangan itu tetap terpampang di depan ane, bahkan leher ini seperti kaku nggak bisa bergerak. Ane teriak-teriak dengan melafalkan ayat-ayat suci yang biasa ane bacakan ketika ane dalam rasa takut, suara ane tak bisa keluar, tertahan.

Ane baca berulang-ulang ayat-ayat itu sampai akhirnya kelambu di tempat tidur ane kembali berwarna biru muda dengan posisi yang membuka seperti awal ane merebahkan diri. Masih tercium bau wangi, dan amis. Wangi yang menyengat seperti bau bunga kematian. ane ingat pernah mencium bau seperti ini dulu di kampung, ketika ada tetangga ane yang meninggal, biasanya dipakaikan bunga-bunga yang bercampur-campur hingga tidak jelas lagi bau wanginya. Ane gosok-gosok mata ane, dan berharap kalau yang terjadi tadi hanya mimpi. Ya, hanya mimpi.

Benarkah hanya mimpi? Bau bunga dan amis masih sangat menyengat menusuk hidung ane. Ane lihat jam di HP, baru 3 sore. Ane sapu pandangan ke sekeliling, nggak ada sesuatu yang mencurigakan selain dari bau bunga yang tetap menyebar di ruang tidur. Ane keluar kamar, lalu menyusul istri dan anak ane yang main ke tetangga sejak siang tadi. Kengerian tadi nggak ane ceritakan pada istri ane, karena ane nggak ingin istri ketakutan. Menjelang magrib Ane putar MP3 orang mengaji dari komputer, suaranya mengalun dan memupuk kembali keberanian ane.

Pagi buta ane sudah berkemas untuk berangkat kerja ke Bogor, semua sudah rapi kecuali HP ane. HP yang semula ane taruh di atas meja nggak satupun yang kelihatan. “Ma, lihat HP Saya nggak?” tanya ane pada istri, “nggak tahu Pa” jawabnya. Ane desak istri ane sampai-sampai dia sumpah bahwa dia nggak tahu dimana dua HP ane berada. Kami mencarinya keseluruh ruangan dan HP itu tetap nggak ada. Dengan menggunakan HP istri, Ane coba miscall Nomor HP Ane. Masih ada nada sambung. Ane berfikir bahwa HP itu mungkin dicuri orang, ane cek lagi ke seluruh ruangan. Nggak mungkin dicuri orang. Semua engsel nggak ada yang rusak dan semua pintu dari semalam terkunci rapat. Ane coba lagi telepon, tetap tidak diangkat meski ada nada sambung. Akhirnya Ane anggap kedua HP itu sudah hilang. HP Nokia ketupat yang waktu itu masih baru-barunya keluar, dan Sonyericsson K750i (sampai saat tulisan ini diketik, HP-HP itu tetap tak ditemukan. Ketika besoknya TS Coba telpon lagi, diangkat tapi hanya suara gemuruh dan perempuan cekikikan .Red.)

Jam 6.30 wib motor ane sudah merayap di pelataran kantor tempat ane kerja. Setelah memarkir motor, Ane buka kancing Jaket kulit dan bersiap menuju ruangan ane, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan teman kerja ane. “Bang, awas Ular!!” begitu teman ane dengan suara tinggi. “Mana?” tanya Ane sambil mata ane memandang ke sekeliling berusaha mencari ular yang dimaksud.
“Tenang.. tenang Bang… tenang. Diam saja di situ.” sambungnya.
“Kok?” Ane bingung.
“Itu Ularnya di jaket Abang”
“Masya Allah… Kok bisa sih?”

Lalu dengan bantuan teman ane, Ane copot jaket kulit ane. Rupanya ada Ular belang yang ada di dalam jaket ane, dan hanya kepalanya saja yang nongol kelihatan dari luar jaket, sementara badan ular itu masih berada di dalam Jaket ane. Sungguh aneh Gan. Tapi, ini benar-benar terjadi. Entah sejak kapan ular itu berada di dalam jaket Ane.

Ane menghabiskan kerja di hari itu dengan perasaan yang nggak karuan. Teman Ane yang lain bilang, bahwa dia memiliki teman yang ahli dalam mengusir gangguan di dalam rumah yang angker atau berhantu. Konon, temannya ini sudah biasa dipanggil oleh para pejabat untuk urusan suprnatural. Ane pun setuju untuk dinetralisir rumah ane, siapa tahu memang paranormal ini benar bisa, dan rumah ane bisa dibebaskan dari Hantu.

Sore harinya, rombongan paranormal datang. Mereka meminta disediakan garam kasar untuk sarana mereka mengusir Hantu. Orangnya masih cukup enerjik dan muda-muda, mungkin sekitar 36 tahunan. Seorang diantara mereka yang paling tinggi tubuhnya menyebar garam ke seluruh ruangan. “Bapak, ibu.. Rumah ini merupakan pusat atau tempat bermain dan pertemuan dari hantu-hantu di sekitar daerah sini. Tadi sudah kami usir dan kami pagari rumah ini, mudah-mudahan sudah tidak berani ke sini lagi.” Kata paranormal itu setelah selesai menjalankan ritualnya.
“Mereka bisa diusir Pak?”
“ya, mudah-mudahan Pak.” jawab sang Paranormal.
Mereka pun pulang sebelum Magrib.

Malam Harinya, Anak ane menangis terus
Bergantian ane dan istri ane menggendong si kecil, tapi tetap saja anak kami terus menangis sambil menunjuk-nunjuk ke sudut ruang belakang. Ia terus menangis. Ane memandang ke sudut ruang belakang, berharap melihat keganjilan ataupun penampakan setan yang telah membuat anak ane menangis. Tapi hanya gelap, pekat. Tidak ada apa-apa di sana. Kemudian, dengan mengasumsikan bahwa di depan ane terdapat sesuatu makhluk ataupun hantu yang nggak bisa Ane lihat, Ane keluarkan kalimat-kalimat seperti seseorang yang sedang berbicara dengan orang lain, ini sering Ane lakukan dan biasanya anak Ane kembali tenang.
“Tolong jangan ganggu anak Saya ”
“Tolong pergi dari sini”
Tetap nggak ada reaksi apa-apa. Anak Ane masih menangis.

Istri ane yang menggendong si kecil nampak kelelahan. Lalu istri ane secara spontan membacakan ayat-ayat alqur’an. Si kecil terdiam, berhenti menangis. Entah berhenti menangis karena sudah capek atau memang sang pengganggu sudah pergi. Kami pun lega. Ane ajak istri ane masuk kamar utama untuk ketenangan. Tapi baru saja kami buka pintu, terdengar air mengalir dari kran kamar mandi tamu di arah depan. Istri ane ketakutan. Beberapa saat setelah itu lampu ruang tengah dan lruang tamu tiba-tiba padam.
Kami tetap masuk ke dalam kamar. “Tenang aja Ma, nggak usah Takut.” Ane coba menenangkan istri ane walaupun sebenarnya ane sendiri juga takut. Takut kalau hantu-hantu itu marah dan sengaja membuat ulah karena kedatangan tiga paranormal tadi sore.

Hingga hampir tengah malam ane nggak tidur. Suara air mengalir dari kran masih terdengar, suara yang nggak seberapa keras tapi seakan memekakan telinga ane. Jarak antara kamar mandi tamu dengan kamar utama kami sekitar sepuluh meter tapi suara aliran kran sungguh sangat mengganggu. Air itu akan terus mengalir sebelum tabung penampungan air di atas habis. “Ini tak bisa dibiarkan” gerutu Ane dalam hati, kesal. Lalu Ane bangkit dan bermaksud mematikan kran di depan, melewati gelap ruang tengah. Ane coba tekan stop kontak untuk menyalakan lampu, tapi lampu tetap padam dan nggak mau nyala. “Berarti cuma kebetulan lampu ini konslet…” bisik ane dalam hati. Lalu Ane menuju Kamar mandi dan mematikan kran itu. Sepanjang ane melewati ruang depan dan ruang tengah, bulu kuduk ane merinding dan setiap gerakan ane seolah ada yang memperhatikan ane. Terdengar suara berderap gaduh, seperti suara ramai bocah-bocah yang sedang kejar-kejaran, berlarian menjauhi ruang tamu. Di luar terdengar anjing melolong dengan suara yang nyaring, membuat bulu kuduk Ane berdiri. Ane singkap gorden jendela depan, berusaha melihat ke luar rumah. Sepi senyap. hanya suara lolong anjing yang semakin lama semakin memilukan, lirih, dan hilang. Ane merasa banyak mata yang memperhatikan Ane, ane merasa diawasi.

Ane merasa sia-sia dengan memanggil ketiga Paranormal yang datang sore tadi. Antara marah, sedih dan kalut. Entah berapa paranormal yang pernah kami panggil untuk mengusir hantu-hantu itu. Pada kenyataannya selalu manjur di depan saja, dan hantu tetap meneror kami kembali. Yang terjadi malam ini lebih parah, di luar dugaan. Para hantu seperti ngamuk dan tidak terima.

Beberapa hari kemudian Ane mendapat saran bahwa untuk mengusir hantu, harusnya dengan bantuan orang pintar setempat atau orang pintar yang asli kelahiran daerah dimana terdapat ancaman hantu tersebut. didapatlah nama-nama orang pintar, orang pintar asli kelahiran daerah sini.

Suatu sore, Ane bersama anak dan istri, sedang berada di rumah salah satu sesepuh tempat kami tinggal, namanya Pak Maih. rata-rata orang di sini mengenal nama Pak Maih. Orangnya sudah cukup berumur tua tapi masih nampak gurat semangatnya. Selesai Shalat, Pak Maih membacakan doa-doa panjang. Mulutnya komat-kamit dengan mata terpejam.
“Kenapa kamu ganggu keluarga ini?” begitu suara yang keluar dari mulut pak Maih yang kemudian dijawab sendiri dengan suara yang kali ini lebih berat dan serak.”Itu memang rumah tempat kami tinggal, apa salah kami?” demikian suara serak itu menjawab.
“Ya sudah, kamu dan teman-temanmu pindah dari sana” suara asli pak Maih.
“Siapa yang lebih dulu di sana? kami lahir dan besar di sana” demikian kira-kira sedikit percakapan monolog yang terjadi antara Pak Maih dengan “dirinya” sendiri. Intinya, para hantu itu nggak mau dipindah Gan. Kamipun hanya bisa pasrah. Lalu pak Maih bicara pada kami agar tidak lagi memindah atau mengusir makhluk-makhluk halus yang ada di rumah kami.
“Dipindahkan kemanapun, diusir kemanapun, mereka akan tetap kembali, entah untuk beberapa saat, entah untuk selamanya” kami diam. pak Maih melanjutkan bicara
“Ibarat tanah kelahiran kita, kemanapun kita merantau pergi, suatu saat akan rindu dan pulang lagi sekedar menengok atau kembali pulang ke rumah tempat kelahiran kita.”

Akhirnya kami pulang dengan perasaan lebih plong. Lega rasanya. biarlah hantu-hantu itu tetap datang-datang lagi nggak apa-apa, toh Pak Maih sudah berusaha mengungsikan mereka ke tempat yang jauh. kamipun bertekad untuk nggak peduli jika sewaktu-waktu para setan itu mendatangi rumah kami lagi. Kami bertekad, biarlah hantu-hantu itu tetap tinggal di rumag kami, yang penting kami tidak diganggu. Memang selama ini kami sangat ingin mengusir keberadaan mereka, ternyata malah nggak seperti harapan kami. Pada kenyataannya Omongan Pak Maih terjadi juga. Belum genap satu bulan sejak komunikasi kami dengan Pak Maih yang telah mengungsikan para hantu dengan damai, hantu-hantu laknat itu mulai bermunculan kembali.

Suatu malam, kebetulan Ibu mertua sudah bersama kami lagi, Beliau sengaja datang dari Jawa timur karena kangen pada cucu dan kasihan setelah mendengar cerita kami. Malam itu seperti biasa ane mengerjakan tugas-tugas dari kantor. Ohya Gan, ibu mertua ane ini tidur di kamar tengah yang ada jendela persis bersebelahan dengan ruang tempat ane biasa main komputer. Jadi dari jendela itu, bila kita berada di dalam kamar ini akan dapat melihat jelas keadaan ruang tengah. Tentunya bisa juga melihat siapapun yang sedang ngetik atau browsing di depan komputer di ruang tengah. Ibu mertua ane ini tiba-tiba lemas dan membiru. kami panik, tapi ane mahfum dengan apa yg mungkin telah terjadi.

Siangnya Ibu mertua cerita kepada ane, pada ane sendiri. Kata ibu, setiap malam setiap ane duduk di depan komputer, ibu mertua juga melihat ane sedang mondar-mandir di ruang tengah. Bahkan tadi malam sosok yang menyerupai Ane masuk ke dalam kamar ibu Mertua ane sambil menatap tajam ibu mertua ane, Lalu membentak “Kamu pulang atau mati!” Ya. itu yang diucapkan sosok yang menyerupai ane persis, sambil tetap melotot.

Akhirnya, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka Ane setuju saja saat Ibu mertua Ane pulang sehari setelah adanya teror itu.

Kepulangan Ibu mertua Ane ke Jawa timur cukup membuat istri ane agak terguncang. Baru saja sedikit lega bisa menikmati hidup dalam kenyamanan bersama Ibu, kini harus kehilangan lagi, meski hanya untuk sementara saja. Tapi Ane tahu, hal itu sangat berpengaruh pada ketegaran istri Ane.

Tak terasa dua tahun lebih lamanya, anak kami tumbuh menjadi anak yang sehat dengan kulit putih dan sorot mata tajam. Dia memiliki daya penglihatan ‘lebih’. Ia sering mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya. Mungkin karena terbiasa melihat kerumunan hantu, si kecil jagoan kami menjadi peka pada barang-barang yang kasat mata.

Tempo hari istri Ane sempat bercerita, dia bersama anak kami, menyetrika pakaian di Kamar pembantu. Pada saat istri ane asyik menyetrika, anak ane jalan-jalan sendiri keluar masuk kamar, kadang jalan, kadang dia berlari-lari kecil. Mungkin sudah capek, anak ane masuk lagi menemani ibunya. “Capek ya Ma..?” Tanya sikecil. “Iya nak..” Istri Ane menjawab sambil lalu, sekenanya saja. Lalu Anak ane nyeletuk dengan berkata “Ma.. Mama.. kenapa nggak minta bantu mbak itu saja?” begitu celoteh sikecil dengan suara cadelnya, sambil tangannya menggelayut ke tubuh ibunya.
“Gimana?” Tanya istri Ane kurang faham. Anak ane lalu menunjuk ke tembok kamar sambil berkata “Itu Ma.. Kenapa nggak minta gosokin mbak itu saja?” Istri ane bergidik mendengarnya. Ia memandang ke arah depan tempat yang ditunjuk oleh anak kami. Bulu kuduknya semakin merinding, tapi ia tetap tabah.

Meskipun untuk hal-hal yang kasatmata ini istri ane kurang peka dan kadang tidak bisa merasakan kehadiran makhluk halus, tapi dia termasuk pemberani untuk ukuran keberanian seorang perempuan. Kadang-kadang kalau Ane sedang dihinggapi rasa takut yang sangat, justru istri Ane lah yang seakan lebih menjadi berani dari Ane. dia bisa menjadi seorang Hero bila teman di sampingnya berubah menjadi lemah.

Beberapa anak tetangga teman bermain anak kami, sering datang ke rumah. usia mereka sebaya dengan usia anak kami. Memang menginjak usia hampir empat tahunan ini si kecil sengaja kami ajarkan untuk bersosialisasi dengan orang lain, minimal dengan teman sebayanya. Tapi sayangnya setiap kali teman-temannya bermain ke rumah, salah satu dari mereka pasti ada yang ketakutan dan cepat-cepat menjauh pergi. Jawaban anak-anak kecil itu selalu dengan menirukan gerakan loncat-loncat kecil seperti gerakan vampir dalam film china. Ach, tidak. Lebih mirip gerakan pocongkkkkkkkkkkkk yang meloncat-loncat kecil. Akhirnya istri Ane lah yang lebih sering mengantar bermain anaknya ke rumah tetangga, daripada mendapati hal kejadian yang aneh.

Suatu hari, Ane belikan dia mainan Kolam renang dari karet seperti yang banyak dijual di pinggir jalan. Ane bahagia sekali melihat anak ane gembira. Paling tidak, ibunya tidak lebih tegang lagi. Pernah di suatu kesempatan anak kami berenang sendiri di dalam kolam renang plastik itu. Tak lama anak kami bermain air, tiba-tiba anak Ane kelihatan sangat pucat dan suhu badannnya panas tinggi, bahkan lama-lama seperti membiru. Tiga hari anak kami diopname di Rumah sakit Simpangan Depok. Hampir setiap waktu anak kami berteriak meminta pulang, sementara obat-obat dari dokter yang diberikan tak kunjung menurunkan panas tubuhnya

Anak kami selalu meminta di bawa ke luar ruangan sambil memanggil-manggil namanya sendiri. “Pijar… pijar…” begitu selalu yang diucapkan anak kami. Pada hari kedua, seorang bocah pengunjung Rumah sakit yang kebetulan lewat bersama ibunya didepan kami, ketakutan dan lalu berlindung pada ibunya. Mukanya langsung disembunyikan ke baju ibunya. Bocah ini ternyata Indigo yang bisa melihat secara langsung pemandangan kasat mata di hadapannya.
“Takut Bu, Nenek itu.. Bu…” begitu kata si bocah. Ibunya lalu menjelaskan pada kami perihal anaknya itu. Rupanya si bocah melihat ‘seorang’ nenek-nenek dengan wajah yang sangat buruk terus memegangi tangan anak ane.
Ane yang sedang berusaha menenangkan anak ane yang rewel itupun langsung membaca doa-doa. Ibu-ibu yang lain membacakan ayat-ayat suci ke dalam gelas, lalu air itu diminumkan pada anak Ane. Anak ane sedikit tenang, tapi selang satu jam kemudian anak Ane rewel lagi sambil terus memanggil-manggil namanya sendiri. Suaranya bergema, terdengar agak lain dengan suara anak ane dalam kesehariannya. Secara logika, tidak mungki seseorang akan memanggil-manggil namanya sendiri bila dalam kondisi yang sadar. Ane seperti tersadar bahwa adanya anak Ane memanggil-manggil namanya sendiri adalah bukan kemauan anak Ane.

Seorang pengunjung lain memanggilkan tetangganya yang biasa menangani anak yang ketempelan setan, jurig, atau Hantu, namanya Pak Nano. Dengan bantuan pak Nano inilah, akhirnya anak kami bisa sehat lagi dan panasnya normal kembali. “Anak bapak memang ada yang mengikuti” Begitu penjelasan Pak Nano. Selanjutnya Pak Nano membacakan doa-doa dengan tanpa suara, hanya mulutnya saja yang nampak komat-kamit. Sampai menjelang Isya Pak Nano bersama kami, menjaga anak kami agar tidak didatangi Nenek-nenek buruk rupa itu lagi. Dan memang, nenek-nenek itu tak lagi datang ke Rumah sakit lagi ke tempat anak kami dirawat. Nenek-nenek itu kembali ke “rumah”nya, di rumah Kami.

Semenjak kejadian itu, anak kami menjadi hyperaktif, nakal dan suka usil pada temannya. Karena rewel dan sering mengusili teman-temannya ini, lama-lama kami jengah juga. Berbagai referensi dari Internet, koran maupun saran teman Ane lahap. Ane mencari referensi tentang penyembuhan anak hyperaktif. Hingga pada sebuah Rumah sakit di Kelapadua, kami menemukan seorang Psikolog, namanya Pak Rahmat. Kami sering berkonsultasi dengan beliau. Beliau jugalah yang banyak memberikan tips-tips dan berbagai cara penanganan untuk anak yang hyperaktif. Dari seringnya Konsultasi ini, Kami menjadi dekat dengan Pak Rahmat, hingga ada apa-apa yang menyangkut kenakalan anak, selalu Ane konsultasikan padanya.

Suatu ketika Ane mendapat telpon dari Pak Rahmat yang akan memberikan cara terapy anak hyperaktif.
“Bisa Bapak datang ke rumah Saya?” kata suara di telepon.
“OK. Jam berapa Pak?” Jawab ane.
“Nanti Jam 9 malam.” kembali suara Pak Rahmat.
“Nggak bisa siang saja Pak?” Tanya Ane, tapi jawaban Pak Rahmat tetap seperti semula, kami disuruh datang Jam 9 malam.

Hujan baru saja berhenti mengguyur langit Cimanggis ketika jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Bau harum tanah yang terkena air menyebarkan aroma yang sedap. Mencium aroma ini Ane teringat dulu waktu di kampung suka memakan makanan Ampoh, makanan kegemaran nenek Ane dulu. Kami bersiap-siap berangkat menuju ke Alamat Rumah Pak Rahmat, agak jauh dari rumah ane. Sikecil digendong istri ane, keduanya dengan jaket tebal untuk menahan dingin udara malam. Sampai di tengah perjalanan motor Ane mogok, tanpa sebab apa-apa. Sudah ane cek semua normal. Akhirnya kami berhenti di sebuah tempat dan baru melanjutkan perjalanan 30 menit kemudian. Tanpa bantuan siapapun, motor ane kembali bisa dihidupkan.

Sampai di mulut Kampung tempat tinggal pak Rahmat, Ane hubungi nomor telponnya. Lama tidak ada jawaban. Ane panggil lagi, tetap tak ada jawaban, bahkan nomor itu tidak aktif. Kami telusuri alamat yang pernah diberikan Pak Rahmat. sekitar Jam 10 malam Ane coba telpon lagi, baru ada jawaban. “Ya pak, Saya tunggu” Kata pak Rahmat di telpon.

Suasana mendadak terasa dingin, kiri dan kanan jalan hanya tampak rumah-rumah yang sudah mulai tutup jendela. Suara lolong anjing tiba-tiba menyentak perasaan Ane. Kami mulai merasa nggak enak. Tapi perasaan itu Ane tepis dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, terlihat orang-orang berlalu lalang dalam diam. semua diam. Kami berhenti, lalu seorang Ojek menghampiri kami, ojek ini mengenal Pak Rahmat dan mengantarkan kami. Rumah pak Rahmat sederhana dengan pelataran parkir yang cukup luas. di depannya berjajar pot-pot dengan tumbuh-tumbuhan berbagai jenis. Termasuk pohon bunga melati yang harum wanginya langsung tercium hidung ane, agak menyengat. Setelah memarkir motor, Ane menggendong si kecil sementara Istri Ane mengikuti di belakang. Nggak lama kami menunggu, Pak Rahmat muncul dari dalam dengan pakaian putih-putih, bersama istrinya.

Lalu pak Rahmat memperkenalkan istrinya. “Ini istri saya, Markonah” demikian pak Rahmat memperkenalkan diri. Setelah kami berbasa-basi sebentar, pak Rahmat masuk kembali ke dalam rumah, dan keluar kembali sambil menenteng sebuah buku besar. Buku yang sangat tebal tapi nampak sudah kumal. Ane nggak sempat menanyakan kenapa bukunya sudah nampak kumal begitu. setelah banyak memberi penjelasan mengenai hiperaktif dan terapi penangannya, pak Rahmat mengelus-elus leher dan kepala anak ane. sambil memijit dengan gerakan seperti orang sedang mengurut. “nanti jadi anak yang sehat dan pinter ya nak” Ucap pak Rahmat, dan ane mengaminkannya.
Jam sebelas malam Kami berpamitan, Pak Rahmat dan istrinya mengantar kami sampai ke mulut gerbang rumahnya. Terdengar suara anjing melolong, panjang. Entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk ane berdiri.

Kurang dari satu jam kemudian kami sudah sampai di rumah.
“Permisi ya,..” kata kami ketika masuk ke dalam rumah, seolah kami sedang melewati ‘orang-orang’ lain. Ini sudah menjadi kebiasaan kami beberapa waktu lamanya sejak banyak teror oleh hantu-hantu di rumah kami. Terbukti dengan kami lakukan ucapan permisi ini, gangguan hantu sedikit mereda. Badan kami letih, capek.
Udara yang dingin membawa kami ke dalam tidur yang lelap. Tidur dengan tanpa beban.

Beberapa bulan kemudian, hari itu kami bermaksud silaturahmi sambil mengkonsultasikan perkembangan si kecil. Kami berangkat siang hari, selesai dhuhur. Sesampainya di perkampungan Pak Rahmat, rumah yang pernah kami singgahi dulu itu tak kunjung ditemukan. Kami pun mencari lagi, muter-muter lagi dan mencari persis seperti yang kami lalui malam itu. Kami juga menanyakan pada penduduk sekitar, tak ketemu juga. Lebih dari satu jam kami mencari, namun tetap tidak ketemu. Lalu kami tanyakan pada orang-orang yang tinggal persis di gang-gang yang pernah kami datangi waktu itu, tidak ada yang tahu.
“Pak Rahmat yang mana ya?”
“perasaan sini nggak ada yang namanya Pak Rahmat”
begitu rata-rata jawaban yang kami terima.

Karena sudah kepalang tanggung, kami berusaha mengingat-ingat lagi. kami ikuti jejak yang masih kami ingat. –Kami berhenti di sini, belok di sana, lalu ke sini, ke sini, ketemu belokan lagi, dan persis di depan lapangan.– Dengan pengurutan seperti ini seharusnya pasti ketemu. Tapi, ternyata tetap Tidak!! Rumah itu tetap tidak kami ketemukan. Yang ada di tempat itu, tempat kami menemui Pak Rahmat dan istrinya itu hanyalah RUMAH TUA dengan bagian atap rumah yang sudah tak terawat dan hampir roboh. Bahkan bagian dinding-dinding depan rumahnya sebagian sudah hancur dimakan usia. rumah itu seperti sudah puluhan tahun tidak pernah dihuni.

Karena tak percaya dengan pemandangan di depan mata kami, Ane coba mengulangi lagi dari perjalanan awal, tapi ketemunya tetap Rumah tua itu. Dan, semenjak itu HP Pak Rahmat tidak pernah lagi bisa dihubungi. Kami tanyakan ke Rumah sakit tempat Pak Rahmat pernah dinas, tidak ada yang tahu alamatnya. Satu-satunya alamat, tempat yang kami datangi siang itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s